Rabu, 25 April 2012

PENDIDIKAN dan TEKNOLOGI

winda rizka 11-011

nita permata sari siregar 11-033 

PERSINGGUNGAN ANTARA TEKNOLOGI dan PENDIDIKAN


Teknologi itu ada karena hasil research dari para ahli. Para ahli bisa karena mereka belajar dari proses pendidikan sehingga pendidikan dan teknologi saling berkaitan. Walaupun tidak semua orang mengikuti perkembangan teknologi dalam dunia pendidikan. Contohnya, pada suku Rimba mereka melakukan proses pendidikan tanpa menggunakan teknologi, mereka masih mengajar menggunakan pelepah pohon dengan alat tulis batu. Tetapi masyarakat di perkotaan pun sudah mengikuti itu semua dikarenakan lingkungan perkotaan pun sudah menyediakan fasilitas teknologi itu yang sangat berbanding terbalik dengan suku-suku pedalaman. Seperti yang dapat kita lihat diperkotaan, kita dapat dengan mudah menemukan warnet ( warung internet ) dengan biaya yang terjangkau sehingga semua kalangan masyarakat dapat menggunakannya dengan mudah. Hal ini mempermudah masyarakat maupun siswa-siswi dalam membantu mengerjakan tugas sekolah maupun mencari pengetahuan yang lebih banyak. Pendidikan di perkotaan pun sudah mengharuskan murid-murid dan guru-guru menggunakan teknologi. Contohnya, murid sudah mengirim tugasnya lewat email dan guru-guru sudah menggunakan proyektor untuk menerangkan pelajaran kepada murid-muridnya.


PERAN TEKNOLOGI di dalam KELAS

  • Pra taman kanak-kanak - Grade 2, pada grade ini anak-anak sudah mengenali perangkat komputer seperti mouse, keyboard, monitor. Dan anak-anak sudah bisa mengoperasikannya secara sederhana.
  • Grade 3- Grade 5, Dapat menggunakan sumber daya teknologi seperti kalkulator dan software pendidikan
  • Grade 6 - Grade 8, pada grade ini, mereka sudah dapat menggunakan internet untuk mengakses wabsite, dapat menerapkan sumber daya teknologi dan kebanyakan dari mereka sudah memilki alat telekomunikasi sendiri seperti handphone
  • Grade 9 - Grade 12, sudah dapat menggunakan informasi online untuk memenuhi kebutuhan riset, publikasi dan komunikasi.
PANDANGAN MAHASISWA yang MENDALAMI PSIKOLOGI PENDIDIKAN tentang UBIQUITOS COMPUTING

Menurut kami yang sedang mendalami psikologi pendidikan adalah bahwa ubiquitos computting itu memilki dampak positif dan dampak negatif. Dampak positif yaitu murid-murid dapat melakukan tugas mereka dengan mudah karena ubiquitos computting itu dimanapun kita berada dapat di gunakan. Sementara dampak negatifnya yaitu kurang bagus bagi sosial mereka dan berefek bagi kesehatan tubuh mereka di karenakan apabila mereka berhadapan dengan monitor terus maka mereka tidak sempat untuk bersosialisasi dengan orang lain. Selain itu, dampak apabila berlama-lama di depan monitor akan merusak mata mereka yang disebabkan oleh radiasi komputer tersebut.

1.     Dimana letak persinggungan antara teknologi dan pendidkan ?
Jawab : Psikologi pendidikan adalah studi ilmiah tentang perilaku dan proses mental. Psikologi pendidikan adalah cabang ilmu psikologi yang mengkhususkan diri pada cara memahami pengajaran dan pembelajaran dalam lingkungan pendidikan. Psikologi pendidikan adalah bidang yang sangat luas sehingga dibutuhkan satu buah bahasan tersendiri untuk menjelaskannya.
Teknologi pendidikan keberadaanya sudah cukup lama, yaitu di era pertengahan 1970-an. Namun sekarang masih banyak tenaga pendidik yang kurang begitu memahami apalagi menerapkannya dalam dunia pendidikan. Bahkan tidak dapat dipungkiri, masih banyak orang yang memiliki persepsi yang keliru terhadap disiplin ini. Mereka beranggapan bahwa teknologi pendidikan hanya mengenai televisi, computer atau penggantian peran guru oleh seperangkat teknologi di kelas. Tetapi dengan zaman yang sudah sangat canggih seperti saat ini dengan teknologi kita dapat dengan gampang mengetahui apa saja yang terjadi di seluruh dunia dengan adanya teknologi pendidikan akan lebih gampang menjalani pendidikannya Pembelajaran pada hakekatnya mempersiapkan peserta didik untuk dapat menampilkan tingkah laku hasil belajar dalam kondisi yang nyata, atau untuk memecahkan masalah yang dihadapi dalam kehidupannya. Untuk itu, pengembang program pembelajaran selalu menggunakan teknik analisis kebutuhan belajar untuk memperoleh informasi mengenai kemampuan yang diperlukan peserta didik. Bahkan setelah peserta didik menyelesaikan kegiatan belajar selalu dilakukan analisis umpan balik untuk melihat kesesuaian hasil belajar dengan kebutuhan belajar.
Menurut Lumsdaine (dalam Miarso 2009), ilmu perilaku merupakan ilmu yang utama dalam perkembangan teknologi pendidikan terutama ilmu tentang psikologi belajar, sedangkan menurut Deterline (dalam miarso 2009) berpendapat bahwa teknologi pembelajaran merupakan pengembangan ataupun aplikasi dari teknologi perilaku yang digunakan untuk menghasilkan suatu perubahan perilaku tertentu dari pebelajar secara sitematis guna pencapaian ketuntasan hasil belajar itu sendiri. Sedangkan Harless (1968) menyebutnya dengan “front-end analysis”, sedangkan Mager dan Pape (1970) menyebutnya “performance problem analysis”. Dan Romizwoski (1986) mengistilahkan kegitan tersebut sebagai “performance technology”. Belajar berkaitan dengan perkembangan psikologis peserta didik, pengalaman yang perlu diperoleh, kemampuan yang harus dipelajari, cara atau teknik belajar, lingkungan yang perlu menciptakan kondisi yang kondusif, sarana dan fasilitas yang mendukung, dan berbagai faktor eksternal lainnya. Untuk itu, Malcolm Warren (1978) mengungkapkan bahwa diperlukan teknologi untuk mengelola secara efektif pengorganisasian berbagai sumber manusiawi. Romizowski (1986) menyebutnya dengan “Human resources management technology”. Penanganan berbagai pihak yang diperlukan dan memiliki perhatian terhadap pengembangan program belajar dan penyelenggaraan kegiatan pembelajaran memerlukan satu teknik tertentu yang dapat mengkoordinir dan mengakomodasikannya sesuai dengan potensi dan keahlian masing-masing.
Kajian ahli-ahli psikologi dan sosial psikologi dalam pendidikan berlangsung selama masa dan pasca perang dunia ke II, terutama menjadi fokus kajian di lingkungan pengajaran militer (Lange, 1969). Hasil kajiannya membawa pengaruh terhadap penyelenggaraan pembelajaran, terutama dalam menetapkan tujuan pengajaran, memahami peserta didik, pemilihan metode mengajar, pemilihan sumber belajar, dan penilaian. Kemudian berkembang beberapa kajian yang berkaitan dengan hubungan antara media audiovisual dengan pembelajaran yang difokuskan pada persepsi peserta didik, penyajian pesan, dan pengembangan model pembelajaran. Studi masa itu kebanyakan diwarnai oleh aliran psikologi behavior, sebagai contoh operant behavioral conditioning yang ditemukan BF Skinner (1953). Teori belajar dan psikologi behavior ini mempengaruhi teknologi pendidikan pada masa itu dalam tiga hal, yaitu:
1.    Pengembangan dan penggunaan teaching machine dan program pembelajaran;
2.    Spesifikasi tujuan pendidikan ke arah behavioral objectives; dan
3.    Pencocokan konsep operant conditioning dengan konsep model komunikasi (Ely, 1963).
.
2.     Bagaimana pendidikan yang saat ini hubungan dengan teknologi di daerah kota medan ?
Jawab : perspektif tentang hubungan antara teknologi dengan pendidikan terutama di daerah kota medan ?? :Perspektif pertama adalah perspektif yang memandang bahwa teknologi adalah produk pendidikan. Perspektif ini berlaku di negara atau lembaga pendidikan yang budaya research & development-nya sudah sangat bagus. Memandang teknologi sebagai produk pendidikan memiliki dampak positif berupa tidak terikatnya pendidikan terhadap keterbatasan teknologi. Kita sering mendengar banyak yang mengeluh “Sekolah kami tidak memiliki fasilitas untuk itu”. Kalimat seperti ini tidak akan muncul, jika perspektif yang dimiliki adalah perspektif teknologi sebagai produk pendidikan.
Perspektif kedua,
adalah perspektif yang menganggap bahwa teknologi adalah akselerator pendidikan. Perspektif ini bisa benar, jika penguasaan tenaga didik terhadap pedagogik dan andragogik-nya juga sudah benar. Bagaimanapun juga, teknologi hanyalah alat bantu pendidikan. Apalagi jika kita berbicara tentang Teknologi Informasi, yang baru akan bisa punya “taring” jika Sistem Manajemen Informasi, termasuk Learning Content Management System (LCMS)-nya benar-benar tertata dengan rapi dan merupakan produk kerjasama antara para ahli pendidikan, ahli Knowledge Management dan para ahli teknologi IT. [Di Indonesia ada kesalahan persepsi, bahwa Teknologi Informasi untuk Pendidikan hanya kerjaan para ahli komputer].
Perspektif Ketiga
adalah perspektif yang paling banyak dimiliki oleh kalangan pendidik Indonesia, dan merupakan sebuah salah kaprah akut. Yakni memandang bahwa teknologi adalah Pendidikan. Seakan-akan papan tulis dan metode belajar tradisional tidak punya “tempat” lagi untuk mengembangkan peserta didik yang bermutu. Seakan-akan semuanya harus digantikan dengan komputer dan LCD Proyektor. Seakan-akan Perpustakaan harus dan wajib diganti dengan Internet. Perspektif ini memiliki dampak sangat fatal, yakni hadirnya generasi pendidik yang tidak kreatif, menyerah terhadap keterbatasan yang ada.
Milken Exchange on Education Technology, bagian dari Milken Family Foundation, Amerika Serikat, menuliskan bahwa untuk berhasilnya penerapan teknologi pendidikan di sebuah lembaga pendidikan, haruslah mampu menjawab tantangan-tantangan berikut ini :
  • Terpenuhinya standar yang tinggi sesuai dengan era teknologi yang ada saat ini
  • Mengadakan sebuah agenda penelitian nasional untuk mengetahui kejelasan penerapannya
  • Meningkatkan kapasitas sekolah lokal dan daerah untuk mengaplikasikan kondisi lingkungan pembelajaran tertentu (bagi penerapan teknologi yang dimaksud)
  • Mendokumentasikan dan melaporkan setiap hasil penerapannya (dan penelitian) di lapangan.
3.     Apa pendapat kalian tentang UBIQUITOS COMPUTING ??
Jawab : Menurut Kelompok kami ialah : Komputasi di mana-mana (Ubicomp) adalah model pasca-desktop interaksi manusia-komputer yang memproses informasi telah sepenuhnya terintegrasi ke dalam benda sehari-hari dan kegiatan. Dalam perjalanan aktivitas normal, seseorang "menggunakan" komputasi mana-mana melibatkan perangkat komputasi banyak dan sistem secara bersamaan, dan belum tentu bahkan tidak menyadari bahwa mereka melakukannya. Model ini biasanya dianggap sebagai kemajuan dari paradigma desktop. Secara lebih formal, komputasi di mana-mana didefinisikan sebagai  "mesin yang sesuai dengan lingkungan manusia bukan memaksa manusia untuk masuk mereka."

Paradigma ini juga digambarkan sebagai komputasi luas, kecerdasan ambient,  atau, baru-baru, everyware,  di mana setiap istilah menekankan aspek yang sedikit berbeda. Ketika terutama tentang obyek yang terlibat, juga komputasi fisik, Internet of Things, komputasi haptic,  dan sesuatu yang berpikir. Daripada mengajukan definisi yang tunggal untuk komputasi mana-mana dan untuk istilah-istilah terkait, sebuah taksonomi properti untuk komputasi mana-mana telah diusulkan, dari jenis-jenis yang berbeda atau citarasa sistem mana-mana dan aplikasi dapat dijelaskan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar